Saturday, October 24, 2015

Nikmatnya Ngopi di Puncak Temboan, Ada Pemandangan Gunung, Danau dan Laut





Ngopi sambil menikmati pemandangan gunung, danau dan laut ? Bukan tak mungkin. Di puncak temboan, anda bisa menikmati tiga angle pemandangan alam tersebut.

Dari puncak yang berlokasi di Kelurahan Rurukan Satu, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut), pengunjung bisa menikmati megahnya Gunung Klabat sebagai gunung tertinggi di Sulut ini.

Di sisi lain, pemandangan Danau Tondano yang juga merupakan danau terbesar di Sulut sangat jelas terlihat. Serta laut Kota Bitung terlihat dari kejauhan.

Selain ketiga angle pesona alam tersebut, Kota Tondano, sebagai Ibukota Kabupaten Minahasa terlihat seperti miniatur kecil di samping Danau Tondano.

Dari Pusat Kota Tomohon, butuh perjalanan sekitar 30 menit berkendara untuk tiba di kelurahan terujung Kota Tomohon yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Minahasa. Dari Kota Manado ke Kota Tomohon, butuh waktu sekitar 60 menit.

Selama perjalanan menuju lokasi dari pusat kota Tomohon, pengunjung akan disambut dengan bebukitan yang digarap warga menanam sayur-sayuran. Daerah ini memang terkenal sebagai daerah penghasil holtikultura.



Pemandangan bebukitan tersebut memukau para wisatawan. Sehingga tak heran, di pinggir-pinggir jalan banyak wisatan yang singgah berpose dulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Temboan.

Tiba di lokasi, karcis masuk per orang dikenakan Rp 4 ribu. Hanya dengan nominal tersebut, pengunjung sudah bisa menikmati indahnya suasana puncak yang memberi sajian pemandangan memesona.

Saat berkunjung ke Puncak Temboan, Selasa (19/05/2015), lokasi tampak ramai. Hembusan angin segar langsung menyapa para pengunjung. Orang-orang yang baru tiba tanpa hitung tiga langsung mengambil kamera dan handhone untuk berpose.

Wajah semringah tampak terlihat, saat mereka melihat hasil jepretan. Ungkapan mengagumi seperti "wah keren" atau "bagus sekali tempat ini" terdengar pada beberapa pengunjung kala itu.

"Tempat ini bagus sekali, pemandangannya indah. Potensinya besar sekali. Kalau digarap lebih lagi, ini akan menjadi tempat luar biasa yang akan menarik para wisatawan," ujar Natalia, salah seorang pengunjung.

Di tempat ini dibangun sebuah aula yang beratapkan genteng merah. Rumah ini sering disebut rumah merah. Di samping rumah ini dibangun pijakan beton yang dijadikan tempat favorit untuk berpose.



Ada juga spot indah untuk berpose yakni lereng rerumputan. Hanya saja harus berhati-hati berada di sini, agar tak jatuh ke bawah. Karena lereng tersebut cukup terjal.

Untuk ke lokasi wisata ini, pengunjung sebaiknya menggunakan jaket. Hawa dingin akan tak bersahabat, apalagi bagi yang bermukim di daerah panas.

Di daerah dingin seperti ini, pengunjung pasti akan mudah lapar. Jangan takut, di sini pengelola menyediakan makanan dan minuman bagi para wisatawan.

Aneka kopi hangat menjadi rekomendasi untuk para wisatawan, karena dinginnya hawa setempat. Hanya dengan Rp 5 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati nikmatnya kopi hangat.

Yang lapar, aneka makanan ringan maupun berat tersedia. Seporsi pisang goreng hanya dihargai Rp 15 ribu. Ada juga pilihan lainnya seperti mie instan, paket nasi dan ikan dan jenis makanan lainnya.

Harganya relatif terjangkau dan pas di kantong. Sediakan saja Rp 20 ribu, sepaket makanan sudah bisa dinikmati di atas puncak ini.




Selain makanan, pengelola juga menawarkan dagangan stroberi, hasil alam warga setempat. Per paket stroberi organis tersebit dihargai Rp 15 ribu. Dan stroberi ini dijamin manis.

Untuk yang ingin berwisata berjemaah dan ingin menggunakan aula bisa juga. Harga sewa shift pagi dari pukul 06.00 - 18.00 Wita seharga Rp 400 ribu. Untuk shift malam dari pukul 18.00 - 06.00 Wita besoknya, dibanderol Rp 500 ribu.

Untuk shift malam, pengelola tak menyediakan tempat tidur. Hanya aula saja. Sehingga pengunjung disarankan untuk membawa alat untuk tidur.

Pengelola sendiri menjamin keamanan para pengunjung, terutama di malam hari. Ada penjaga yang akan terus mengontrol aktivitas pengunjung. Dan di lokasi ini sangat dilarang membawa minuman keras.

Puncak Temboan beroprasi tiap harinya mulai ukul 08.00 - 18.00 Wita tiap Senin - Sabtu. Untuk Minggu dibuka mulai pukul 15.00 - 18.00 Wita. Yang ingin berwisata, bisa langsung menghubungi pengelola di nomor 081340563200.

Jelajahi 2.432 Anak Tangga di Bukit Kasih Kanonang





Indahnya pemandangan alam dari puncak bukit, dengan sedikit aroma belerang yang tercium. Rendaman air panas yang memijat tubuh, dengan hawa sejuk yang menyentuh kulit.

Semuanya itu bisa dinikmati di Bukit Kasih, Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Bukit ini masih merupakan bagian dari lereng Gunung Soputan.

Dinamakan Bukit Kasih, karena wisata ini tergolong objek wisata religius. Di lokasi ini dibangun tugu kasih setinggi 20 meter, yang di atasnya ditaruh patung berbentuk bumi yang dilingkari seekor merpati putih. Merpati putih lambang kasih. Dan arti dari lambang tersebut yakni kasih harus menyelimuti seisi bumi.

Sementara di lima sisi tugu, tertulis pesan-pesan kedamaian lima agama di Indonesia yakni Kristen Protestan, Kristen Katolik, Muslim, Hindu dan Budha. Di puncak Bukit Kasih ini, dibangun pula lima tempat ibadah agama-agama tersebut.

Untuk menyisir Bukit Kasih, wisatawan harus menyediakan tenaga ekstra. Total keseluruhan anak tangga ada 2.432 yang lumayan membuat kaki pegal-pegal.



Ribuan anak tangga ini menuju empat destinasi yakni lima tempat ibadah yang merupakan puncak tertinggi, lokasi salib raksasa, sebuah pondok besar bagian tengah bukit yang bersentuhan dengan bukit belerang.

Jika ingin naik, sebaiknya persiapkan minuman dalam perjalanan. Karena jika tak bawa dan tiba-tiba haus dalam perjalanan, tak ada yang jualan minuman. Harus bersabar hingga puncak lima tempat ibadah, baru banyak yang jualan makanan dan minuman.

Jika lelah dalam perjalanan, ada pondok-pondok kecil yang disediakan untuk bersantai sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Dari Kota Manado, jarak ke Bukit Kasih kira-kira 50 kilometer. Dari pusat kota Kecamatan Kawangkoan, berjarak 5 kilometer. Jika telah tiba di Kawangkoan, akan sangat mudah menemukan lokasi ini. 



Menelusuri lorong desa, Kanonang menjadi desa terujung sebelum bukit kasih. Sebelum masuk ke lokasi, wisatawan akan disambut dengan hamparan hijau tanaman para petani setempat.

Tugu ucapan selamat datang tiba, karcis masuk per orang Rp 3 ribu. Parkir kendaraan motor maupun mobil Rp 5 ribu per kendaraan.

Setelah kendaraan diparkir, ucapan selamat datang para pengelola akan menyambut lewat pengeras suara. Perwakilan rombongan wisatawan akan diarahkan untuk ke pusat informasi.

Di situ, pengelola akan menyodorkan buku tamu untuk diisi dan partisipasi seadanya. Tergantung kemampuan wisawatan akan memberi berapa. Setelah itu, barulah petualangan menaklukan ribuan anak tangga dimulai.

Wisatawan akan dimanjakan dengan sejuknya suasana pegunungan. Aroma belerang sesekali akan tercium dibawa angin.

Jika ingin naik, dimulai dari tangga sebelah kiri dan turun di tangga sebelah kanan. Medan untuk naik tak terlalu terjal, ada beberapa titik yang jalannya lumayan datar. 



Tapi untuk turun, tangga-tangga terjal siap menyambut pijakan kaki para wisatawan. Di jalur menurun ini, dibangun patung-patung jalan Salib.

Pemandangan indah di puncak akan memesona ara wisatawan. Dari kejauhan, tampak terlihat megahnya Gunung Lokon, dan penampakan puncak Gunung Klabat dan Manado Tua.

Juga kawasan pemukiman warga terdekat, dan pancaran pegunungan yang berada di wilayah Kabuaten Minahasa dan Kota Tomohon.

Selain tangga-tangga tersebut, spot yang jangan dilupakan untuk dikunjungi yakni di kawasan bukit belerang. Kawasan ini akan memberi sensasi indahnya bersentuhan dengan belerang.

Di bukit belerang ini, ada pahatan raksasa kepala Toar dan Lumimuut. Dua tokoh legenda tanah Minahasa yang merupakan nenek moyang suku Minahasa, yang konon katanya merupakan turunan bangsa Mongolia.

Toar dan Lumimuut yang beranak-pinak, yang menjadikan orang-orang Minahasa saat ini. Sehingga alasan itulah Minahasa, sering disebut tanah Toar Lumimuut.



Kawasan ini langsung bersentuhan dengan tanah belerang. Tak ada lagi anak-anak tangga untuk berpijak. Sehingga wisatawan disarankan untuk berhati-hati agar tak jatuh.

Titik yang menjadi lokasi favorit untuk berfoto yakni tugu Bukit Kasih. Jika berkunjung, tak afdol rasanya jika tak mengabadikan diri di tugu ini.

Di sepanjang lokasi wisata, para penjual souvenir khas Bukit Kasih, maupun venue lain seperti Bunaken takkan bosan-bosan menghampiri anda. Harga-harga yang dipatok relatif murah.

Juga para penjual makanan seperti jagung rebus dan minuman ringan. Puluhan orang yang menjajakan foto langsung jadi pun takkan segan-segan untuk terus merayu para wisawatan. Per foto dihargai Rp 20 ribu.

Para wisatawan juga bisa menikmati jasa perendaman kaki dengan air panas. Per orang dihargai Rp 5 ribu. Itu belum termasuk jasa pemijitan, Rp 20 ribu. Jika hanya ingin berendam saja, tak masalah.



Selain itu, kolam air panas juga tersedia. Hanya dengan Rp 5 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati kolam air panas yang langsung berasal dari mata air panas di bukit belerang.

Jika lapar, jejeran warung yang menjual kuliner siap menyambut. Berbagai makanan dijual khas seperti bubur Manado, pisang goroho, milu rebus, mie ceplok, aneka ikan tawar dan lainnya tersedia. Tapi ada juga warung yang menjual makanan untuk kalangan tertentu.

Bukit kasih ini juga menyediakan pondok-pondok untuk disewakan. Tak ada tarif khusus untuk itu, hanya partisipasi yang disediakan. Juga ada rumah doa untuk pengunjung yang ingin berdoa.

Novi Buyung, pengelola Bukit Kasih saat ditemui Senin (18/05/2015) mengatakan tempat wisata tersebut memiliki luas 21 hektar. Awalnya ada 11 hektar, lalu belakangan terjadi penambahan 11 hektar.

Kunjungan rata-rata per bulan kira-kira 5.000 - 7000 pengunjung. "Paling ramai kalau tanggal merah. Weekend juga lumayan. Kalau hari biasa agak sepi," ujarnya.

Tak perlu mahal untuk dimanja saat berwisata, di Bukit Kasih hanya butuh tenaga ekstra untuk mendapat pengalawan wisata alam yang tak terlupakan.

Saribu Talaga, Outbond Adventure Dengan Pemandangan Gunung Klabat





Suasana asri nan sejuk, dengan kicauan burung yang bersiul di balik pepohonan. Pemandangan alam memesona, puncak gunung Klabat mengintip di atas pepohonan. Saribu Talaga Outbond Adventure, menjadi tempat wisata alam pilihan bagi para pelancong. Yang jenuh dengan hiruk-pikuk kehidupan kota, wisata yang berlokasi di Desa Suwaan Lingkungan IV, Kecamatan Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara ini memberi hiburan alam yang menggoda.

Lokasi wisata alam seluas 6 Ha ini menyajikan fasilitas memancing, kolam renang, flying fox dan outbond, serta rumah makan. Sejumlah waduk siap menyambut kail para pemburu ikan mujair. Hasil tangkapan pun bisa langsung dibakar di lokasi.
 
Wisatawan yang tidak hobi mancing, bisa menikmati fasilitas lainnya seperti kolam renang. Kolam tersebut relatif dangkal, dengan kedalaman dua meter. Ada juga kolam yang tingginya hanya selutut orang dewasa.
Yang senang dengan tantangan, terbang di atas tali bisa jadi pilihan. Flying fox sepanjang 100 meter akan memacu adrenalin anda. Jika ingin yang lebih menantang, fasilitas outbond bisa jadi pilihan lain.

Yang sekadar bersantai, atau berekreasi dengan keluarga atau kelompok juga bisa. Ada sejumlah pondok yang disediakan. Juga kalau hanya ingin menikmati kuliner, harganya pas di kantong.
Tak ada tiket masuk ke lokasi wisata ini. Pengunjung hanya perlu membayar fasilitas yang disediakan. Untuk flying fox, Rp 25 ribu sekali meluncur. Begitu pun dengan outbondnya. Hanya saja untuk outbond harus minimal 20 orang dan hanya dibuka pada hari Sabtu dan Minggu. Fasilitas full service pun bisa dinikmati pengunjung. 

Kolam renang dihargai Rp 15 ribu untuk orang dewasa dan Rp 10 ribu untuk anak-anak, pada Sabtu dan Minggu. Untuk weekday, harganya lebih murah yakni Rp 7.500 untuk anak-anak dan Rp 10 untuk orang dewasa. Hari Rabu dan Kamis, kolam renang ditutup karena ada jadwal pembersihan kolam.

Hanya dengan Rp 25 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati sajian ikan nila bakar atau goreng, yang disajikan dengan sayur kangkung dan nasi. Untuk ikan mas bakar maupun goreng hanya selisih Rp 5 ribu, yakni Rp 30 ribu. Tersedia pula menu lain dan aneka minuman ringan.



Hanya butuh waktu sekitar satu jam dari Bandara Sam Ratulangi Manado ke lokasi. Aksesnya mudah dijangkau dan tak terlalu jauh dari pemukiman. Pelancong bisa menggunakan angkutan umum dari Bandara, dengan naik angkot jurusan Lapangan-Pall Dua dengan tarif Rp 4 ribu. Tepat di pertigaan pom bensin Kairagi, anda turun dan ganti angkot jurusan Paal Dua - Airmadidi. 

Anda harus mencermati dengan baik papan nama yang menunjukan lokasi. Setelah masuk Desa Suwaan, anda berhenti di papan nama Saribu Talaga Outbond Adventure yang di pasang di pinggir jalan tepatnya sebelah kiri. Di situ ada lorong, dan masuk ke lorong tersebut. Setelah dari situ, lokasi akan mudah didapat. Jika enggan jalan kaki, anda bisa naik ojek ke lokasi.



Lourens Reginald Ainslie Kasetty, owner Saribu Talaga Outbond Adventure mengatakan ke depan pihaknya akan terus melakukan penambahan. Rencana terdekat yakni pembangunan fasilitas paint ball dan penginapan. 

"Biar one stop service. Banyak fasilitas yang bisa dinikmati pengunjung," ujarnya Sabtu, (17/05/2015). Lokasi ini buka tiap harinya Pukul 08.00 - 18.00 Wita. Yang ingin booking tempat, bisa hubungi nomor 085298335747 atas nama Ainslie.

Friday, October 16, 2015

Pesona Pulau Lihaga tak Kalah Indah Dengan Bali


Pulau Lihaga telah menepis anggapan warga Sulawesi Utara bahwa pulau yang indah itu hanya di Bali. Sejak pulau ini terkenal beberapa tahun terakhir ini, pengunjung di pulau yang berada di Minahasa Utara ini tak pernah sunyi dari pengunjung.

Ketika tiba di pulau tak berpenghuni ini, mata tiba-tiba silau. Saking putihnya pasir Lihaga, mata telanjang serasa tak mampu memandang. Warna hijau toska pasir yang bersentuhan dengan laut, terkombinasi indah dengan pasir putih dan birunya laut. Tanpa tersentuh buatan manusia, menginjakan kaki di pulau ini serasa berada di surga.

Di banding pulau-pulau lain di Sulawesi Utara, Lihaga punya keistimewaan tersendiri. Pasir putihnya yang sehalus tepung begitu menggoda. Tak berpenghuni, bersih dan masih sangat alami. Hanya ada beberapa orang yang dipercayakan sebagai penjaga.


Dari pulau yang luasnya tak lebih dari 8 Ha ini, pengunjung juga bisa melihat pemandangan pulau-pulau tetangga seperti Gangga dan Bangka. Juga pemandangan pegunungan Minahasa Utara, yang terletak di ujung pulau Sulawesi ini.


Biaya masuk ke pulau seharga Rp 25 ribu per orang. Itu belum termasuk biaya penggunaan fasilitas seperti toilet dan air untuk mandi. Fasilitas yang bisa digunakan dengan itu hanya gazebo sebagai tempat duduk maupun tempat menaruh barang.

Untuk buang air kecil seharga Rp 2 ribu per orang, untuk air besar Rp 3 ribu. Jika ingin membersihkan diri dengan air tawar, per galonnya dihargai Rp 20 ribu per orang.

Kalau ingin berkunjung, wisatawan sebaiknya membawa bekal sendiri. Karena tak ada yang jualan makanan di Lihaga. Hanya ada kelapa muda yang dijual seharga Rp 25 ribu per orang.

Yang ingin bermalam juga bisa dan tidak dipungut biaya apa-apa, termasuk kapal. Karena tak ada penginapan, wisatawan sebaiknya membawa tenda sendiri. Meski ada pondok yang dibangun pengelola bisa juga digunakan.


Atau bisa ke seberang pulau, yakni pulau Gangga, yang berjejer resort-resort yang dibangun. Biaya penginapan per orang Rp 800 ribu per malam. Wisata pantai pulau Gangga juga bagus, meski pasirnya tak seputih Lihaga.

Untuk ke Lihaga, waktu jarak tempuh dari Manado menuju Pelabuhan Likupang memakan waktu sekitar 90 menit. Di pelabuhan yang berlokasi di Desa Munte ini berjejer kapal-kapal yang disewakan untuk ke Lihaga, dan beroperasi tiap harinya. Wisatawan bisa langsung menghubungi petugas setempat.

Harga sewa kapal per hari bervariasi. Kapal kecil sederhana yang berkapasitas 12 orang sebesar Rp 1 juta per hari. Jika ingin naik kapal yang lebih mewah, harganya mencapai Rp 1.5 juta.

Dari pelabuhan Likupang ke pulau Lihaga, butuh waktu sekitar 20 menit. Wisatawan juga bisa meminta pengendara kapal untuk mengitari pulau ini. Garis pantai pasir putih dan pemandangan batu karang di sisi lain pulau memanjakan mata para wisatawan. Juga hijaunya hamparan pepohonan di pulau ini.


Setelah itu, perahu akan berlabuh. Hati-hati jika turun dari perahu, jangan sampai malah jatuh dan barang bawaan anda basah. Karena terpaan ombak di pinggir pantai lumayan kuat.

Spot paling menarik di pulau ini adalah sisi yang berhadapan langsung dengan pulang Gangga dan pulau besar Minahasa Utara. Di spot ini, sunset dan sunrise bisa terlihat. Sementara sisi lain pulau tak berpasir, langsung berhadapan dengan karang.

Di daratan, wisatawan disambut dengan papan yang bertuliskan "Selamat datang di pulau Lihaga, perombakan Dotu Kuada." Pepohonan rindang, sebagai tempat berteduh dari terik matahari. Deretan gazebo dan beberapa pondok sederhana. Dan tentunya pasir putih bak tepung.

Duduk-duduk bersantai, main pasir atau sekadar foto-foto menjadi momen tak terlupakan bagi wisatawan. Indahnya pemandangan yang disertai hembusan angin dan deburan ombak bahkan membuat wisatawan tak lagi merasakan terik matahari.



Jika ingin mandi, terpaan ombak pulau Lihaga menjadi sensasi tersendiri. Tapi wisatawan juga harus hati-hati dan lebih baik bertanya dulu pada pengelola di spot pantai mana saja yang aman untuk mandi.

Wisatawan sebaiknya datang pagi. Pukul 7 pagi, sudah bisa start dari pelabuhan Likupang. Agar waktu menikmati pulau Lihaga lebih panjang. Lebih mengesankan lagi, jika wisatawan pulang lebih sore dan menikmati indahnya sunset dari Lihaga.

Pinter-pinterlah memilih waktu berkunjung. Cuaca cerah membuat Lihaga semakin memesona. Indahnya pulau ini akan sedikit berkurang jika hujan atau langit sedang berawan. Karena pancaran warna akan redup jika langit berawan.

Bali memang Indah, Sulut pun terkenal dengan Bunakennya. Namun pesona pulau Lihaga takkan pernah mengecewakan siapa saja yang menginjakan kakinya di sana. Serasa berkunjung ke surge, jangan lupa pulang kalau datang ke sini.




Nikmati Sunset Teluk Manado dari Pantai Kalasey, Nikmati Kuliner Nikmat Murah Meriah


Kalau berwisata ke Kota Manado, Sulawesi Utara,  rasanya tak afdol jika tak menikmati suasana pantai teluk Manado. Soal harga, tak perlu khawatir. Wisata ini murah meriah, dengan suguhan kuliner ringan yang pas di kantong.

Adalah pantai Kalasey, Kecamatan Malalayang, Kota Manado. Di pinggiran pantai sepanjang 500 meter, berdiri warung-warung makanan ringan yang langsung menghadap ke laut, tepatnya ke pulau Bunaken, Manado Tua, dan beberapa pulau di sebelahnya. Di spot itu juga, pengunjung bisa menikmati sunset di langit Manado.

Berbagai kuliner yang disediakan berupa bubur Manado, mie ceplok, gorengan berupa pisang, tahu dan jagung, aneka mie, jagung rebus, jagung bakar dan beberapa panganan ringan lainnya. Aneka minuman ringan juga siap disantap para pelancong di Kota Manado.


Harganya pas bagi yang menyediakan budget pas-pasan. Hanya dengan Rp 10 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati lezatnya bubur Manado, panganan khas Sulawesi Utara. Untuk gorengan, per buahnya seharga Rp 2 ribu. Harga makanan lainnya pun tak jauh dari kisaran tersebut.

Pada puluhan deretan warung nan sederhana, wisatan pantai Kalasey ini selalu dibanjiri pengunjung. Terutama pada hari-hari libur dan akhir pekan. Berdinding bambu dan beratapkan daun tua pohon kelapa, suasana perdesaan menambah kesan alam pantai Kalasey Malalayang.

Dari dalam warung, para pengunjung sudah bisa menikmati suasana pantai. Tapi lebih asiknya jika turun ke bawah kios. Di situ dibangun meja dan tempat duduk yang langsung menghadap ke laut. Dari jalan, warung-warung terlihat sepi. Tapi tidak jika menengok ke belakang.

Beton seukuran jalan setapak yang direklamasi sering ramai bak pasar malam. Baik mereka yang sambil menikmati kuliner, atau yang hanya sekadar bersantai sambil foto-foto. Beton setinggi kurang lebih lima meter tersebut menjadi pemisah antara daratan dan lautan.

Lokasi pantai ini berada di ujung Manado, berbatasan langsung dengan Kabupaten Minahasa. Dari Bandara Sam Ratulangi Manado, menuju lokasi tersebut butuh waktu satu jam perjalanan mobil saat kondisi jalan normal. Tapi jika macet, waktu perjalanan akan semakin lama. Menggunakan motor akan menjadi alternatif baik. Hanya butuh waktu sekita 30 - 40 menit dari Bandara Sam Ratulangi Manado.



Jika hanya menggunakan angkot dari Bandara, angkot yang pertama kali dinaiki adalah jurusan Lapangan - Paal Dua. Turun di terminal Paal Dua, pindah angkot ke jurusan Paal Dua -  Malalayang, atau Paal Dua - Karombasan. Setelah tiba di lokasi, angkota jurusan Malalayang akan banyak didapati.

Itu angkot terakhir yang dinaiki, dan pelancong akan langsung diturunkan di lokasi. Tarif angkot jurusan-jurusan tersebut hanya Rp 4 ribu saja. Tapi angkot memang butuh waktu lebih lama ketimbang mobil pribadi atau motor. Untuk tarif taksi dari Bandara ke lokasi, berada di kisaran Rp 100 ribu.

Warung-warung tersebut buka 1x24 jam tiap harinya. Berwisata pada malam hari juga tak kalah enaknya. Pesta lampu Kota Manado memanjakan pengunjung kala malam, dengan suara deburan ombak yang menenangkan. Ayo nikmati indahnya laut teluk Manado dengan budget murah-meriah.