Sunday, October 25, 2015

Monumen BW Lapian dan CH Taulu yang Terabaikan, Dua Pemimpin Perjuangan RI di Minahasa


Peringatan peristiwa Merah Putih tiap tanggal 14 Februari tak sepopuler hari kasih sayang atau Valentine's day. Padahal, di hari tersebut pada tahun 1946, terjadi peristiwa heroik melawan Belanda di Manado.

BW Lapian dan CH Taulu yang merupakan  pemimpin perjuangan RI di Minahasa pun banyak tak dikenal warga Sulawesi Utara. Kini monumennya dibangun di jalan raya Kawangkoan - Tompaso, Minahasa. Namun sayangnya, monumen ini terlantar, dan banyak ditumbuhi rerumputan.

Latar belakang peristiwa Merah Putih tersebut terjadi ketika provokasi Belanda terhadap dunia luar yang menyebut Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 hanyalah gertakan segelintir orang di pulau Jawa.

Dampak negatif dari provokasi tersebut dirasakan LN Palar, yang saat ini sebagai Duta Besar Pertama RI di PBB, yang sedang berjuang di PBB untuk mendapatkan dukungan PBB dan Negara-negara anggota PBB.

Palar kemudian mengontak para pejuang di Manado, meminta mereka melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bangkitnya keberanian warga Minahasa untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda juga semakin terdorong ketika mereka membaca pesan rahasia dari Pahlawan Nasional Dr Sam Ratulangi yang saat itu sebagai Gubernur Sulawesi di Makassar.


Sam Ratulangi meminta tentara knil, asal Minahasa yang pro RI segera melakukan aksi militer di tangsi knil di Teling Manado. Surat rahasia itu kemudian dibawa ke BW Lapian yang adalah seorang politisi dan CH Taulu yang merupakan tokoh militer.

Sejumlah tentara knil dan tokoh masyarakat maupun politisi Minahasa yang pro RI langsung merancang perebutan tangsi tentara knil tersebut. Peristiwa itu direalisasikan para pejuang pada tanggal 14 Februari 1946 dinihari.

Seluruh pimpinan teras tentara di tangsi itu, termasuk seluruh pimpinan Garnizun Kota Manado yang juga bermarkas di tangsi ditangkap dan disel. Peristiwa itu berlangsung mulai pukul 01.00 hingga 05.00 Wita.

Tepat pukul 03.00 Wita, para pejuang menurunkan bendera Kerajaan Belanda Merah Putih Biru. Merobek warna birunya dan menaikkan kembali warna Merah Putih ke puncak tiang bendera di markas tentara yang disebut-sebut angker karena dihuni pasukan knil, pasukan berani mati, andalan Belanda.

Dengan cepat kejadian ini tersebar ke Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Peristiwa ini sangat bernilai strategis, sebab hanya beberapa jam kemudian seluruh dunia mengetahui bahwa tidak benar provokasi Belanda bawah Kemerdekaan RI cuma sebatas perjuangan di Jawa. Dunia lewat peristiwa ini, akhirnya tahu, Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.


Mengenang jasa-jasa perjuangan BW Lapian dan Ch Taulu, dibangun monumen keduanya pada 30 November 1987 dan diresmikan oleh Gubernur Sulut saat itu, CJ Rantung di jalan raya Kawangkoan - Tompaso.

Namun sayangnya, perjuangan para terdahulu di peristiwa Merah Putih tersebut seakan terlupakan. kondisi monumen yang terpantau Sabtu (27/06/2015) sangat memprihatinkan. Tak terurus dan ditumbuhi rerumputan, yang nyaris menutupi kawasan ini.

Padahal, di kawasan monumen ini dibangun tempat duduk yang bisa untuk bersantai. Jika kondisinya baik, tempat ini bisa dijadikan tempat bersantai menikmati hawa sejuk di Minahasa.

Dari Kota Manado, butuh berkendara sekitar 90 menit. Jika naik angkot, dari terminal Karombasan naik jurusan Kawangkoan. Turun di terminal dan tinggal jalan kaki sedikit menuju arah Tompaso, monumen ini langsung ditemui.


Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah) seperti pesan Bung Karno merupakan kewajiban semua rakyat Indonesia. Kondisi monumen yang memprihatinkan diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Eksotisnya Gunung Mahawu, Hanya 10 Menit Mendaki


Hanya perlu mendaki selama sepuluh menit, kawah gunung Mahawu sudah bisa dicapai. Pendakiannya pun mudah, anak tangga telah disemen dan bertrap-trap.

Kawah gunung yang berlokasi di Kota Tomohon, Sulawesi Utara ini menyajikan pemandangan alam yang indah. Tak heran, kawasan ini menjadi destinasi favorit jika melancong ke kota bunga, Tomohon.

Di puncak Mahawu ini, wisatawan selain melihat kedalaman kawah dan berjalan mengelilingi pinggiran kawah, pemandangan ekstotik di sekitarnya juga bisa dinikmati.

Pemandangan jelas kawah Gunung Lokon, gunung Manado Tua, pulau Bunaken, Kota dan teluk Manado, gunung Klabat, Danau dan kota Tondano, serta kota Tomohon akan terlihat jika wisatawan mengelilingi jalan setapak di bibir kawah. Berada di puncak ini, serasa telah menakhlukkan sebagian Sulawesi Utara.
  
Untuk mengelilingi bibir kawah ini, jalan setapak telah dibeton. Sehingga tak sulit bagi wisatawan untuk menempuhnya. Hanya saja, wisatawan harus menerobos alang-alang yang tinggi untuk bisa membelah lintasan ini.


Di kawah ini, dibangun dua gardu pemandangan. Gardu pertama langsung ditemui diujung anak tangga pendakian. Sementara gardu pemandangan kedua, harus menerobos jalan setapak di tengah alang-alang. Di gardu kedua ini, pemandangan Manado dan Tomohon, serta gunung Lokon terlihat lebih jelas.

Di gardu pemandangan inilah, tempat wisatawan untuk menikmati indahnya kawah Mahawu ini. Di spot ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk berfoto dengan latar belakang kawah. Gardu ini tinggi, harus menaiki tangga besi.

Sesampai di puncak, godaan untuk turun ke kawah begitu kuat. Namun pengelola yang adalah polisi hutan Tomohon tak memperbolehkan wisatawan untuk turun ke bawah. Meski trek ke bawah terlihat mudah. Namun tak sedikir juga yang mengabaikan larangan tersebut dan tetap turun ke dasar kawah.

Ada 150 anak tangga menuju puncak Mahawu. Sepanjang jalan ke puncak juga telah diberi besi pembatas yang berfungsi untuk pegangan bagi yang merasa capek di tengah jalan saat naik atau penahan bagi yang turun dari puncak. Dibangun juga sejumlah shelter untuk beristirahat.


Kawah ini memiliki sejarah letusan. Tercatat Gunung Stratovolcano Mahawu ini pertama kali meletus pada tahun 1789. Orang Minahasa menyebut Mahawu karena sering mengeluarkan abu atau dalam bahasa Tombulu disebut Roemengas.

Letusan kembali terjadi pada tahun 1977, 1994 dan 1999. Letusan terakhir inilah yang membuat air kawah yang berwarna hijau belerang lenyap seketika. Meski demikian, bau belerangnya masih tercium bersamaan dengan semilirnya angin bertiup.

Untuk ke lokasi ini, dari pusat kota Tomohon, kendaraan diarahkan ke kawasan agrowisata Kelurahan Rurukan. Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhkan dengan indahnya perbukitan yang ditanami sayur mayur. Serta aktivitas warga yang berkebun. Pemandangan ini juga indah untuk berfoto-foto.

Kondisi jalan dalam keadaan baik dan telah dihotmix. Memasuki kawasan gunung Mahawu, trek menanjak akan ditemui. Hingga tiba di pos penjagaan. Di pos ini, wisatawan harus mengisi buku tamu, dan memberi partisipasi sesuai kerelaan.


Untuk ke sini, sebaiknya membawa makanan dan minuman sendiri. Karena tak ada yang jualan. Wisatawan harus jeli melihat cuaca, karena jika mendung, keeksotisan gunung Mahawu ini akan berkurang. Alangkah baiknya jika cuaca sedang cerah. Menikmati sunset dan sunrise di tempat ini juga menjadi pilihan yang tak kalah asiknya.

Dan jika ke sini, wisatawan tak diizinkan untuk berisik atau teriak-teriak. Pada kunjungan Kamis (25/06/2015), sekelompok anak muda yang berada di kawah ini teriak tak karuan. Dan tak lama setelah itu, kabut langsung menutupi kawah ini. Penjaga kawasan ini pun langsung menegur anak-anak muda tersebut.

Dari kota Manado, butuh berkendara sekitar 75 menit hingga ke lokasi. Menuju ke terminal Tomohon, dan akan ditemui pertigaan ke Rurukan. Mengarungi jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan indah hingga ke lokasi.


Jika naik angkot, di terminal Malalayang Manado, naik jurusan ke Tomohon. Turun di terminal, dan bisa naik ojek ke puncak Mahawu. Mengunjungi puncak Mahawu akan menghilangkan penat beraktivitas di kawasan perkotaan.

Saturday, October 24, 2015

Patung Yesus Memberkati Manado, Kedua Terbesar di Dunia Setelah Christo Redentor




Sejak dibangun tahun 2007 silam, patung Yesus Memberkati yang berada di kawasan perumahan elit Citraland, yang digawangi pengusaha terkenal Ir Ciputra ini, telah menjadi ikon Kota Manado, Sulawesi Utara.

Monumen Yesus Memberkati ini telah menjadi destinasi wisata religi di Provinsi Sulawesi Utara. Pada sebuah taman kecil yang dibangun menghadap patung ini, menjadi spot warga untuk menikmati megahnya patung ini beserta pemandangan indah di sekitarnya.

Patung ini dibangun setinggi 30 meter, di atas penopang setinggi 20 meter. Terbuat dari bahan dasar fiber, dengan topangan serangkaian besi baja. Dengan total ketinggian 50 meter, menjadikan patung ini sebagai patung Yesus tertinggi kedua di dunia, setelah patung Yesus "Christo Redentor" di Rio de Jeneiro, Brasil.

Patung ini berwarna putih dan menghadap langsung ke Kota Manado dan teluk Manado. Dibangun miring, condong ke depan seperti terbang, dengan pakaian yang diterpa angin. Patung ini juga menjadi simbol kerukunan umat beragama di Sulut, yang mayoritasnya beragama kristen.

Dari taman kecil yang berada di bukit juga, yang berhadapan langsung dengan patung, menjadi titik dimana warga berkumpul. Taman dan patung ini dipisahkan oleh bangunan-bangunan dan jalan di bawahnya. 


Di tempat inilah menjadi tempat favorit warga untuk berfoto-foto. Selain taman kecil itu, sampingnya ada secuil padang rumput yang tak kalah asiknya menjadi tempat nongkrong.

Pemandangan sekitar patung semakin menambah keindahan monumen ini. Dibangun di bukit tertinggi kawasan Citraland, monumen Yesus Memberkati ini memiliki pemandangan yang indah. Untuk menikmatinya pula, tak perlu keluarkan uang.

Dari taman yang dibangun, suara arus kendaraan di ring road Manado terdengar dengan jelas. Sekumpulan rumah di kawasan Citraland, hamparan perbukitan hijau, serta megahnya gunung Klabat.

Dari Bandara Samratulangi Manado, butuh berkendara sekitar 20 menit hingga ke kawasan Citraland ini, melintasi jalur ring road Manado. Jika melewati pusat kota, akan memakan waktu lebih lama.

Jika berkunjung ke Kota Manado, disarankan untuk berkunjung ke monumen ini. Mengabadikan momen di patung Yesus Memberkati ini menjadi tanda bahwa anda telah berkunjung ke Kota Manado, Sulawesi Utara.

Makam Kyai Modjo di Tondano, Pejuang Kemerdekaan Perang Diponegoro


Makam Kyai Modjo

Kyai Muslim Muhamad Halifah atau lebih dikenal dengan Kyai Modjo adalah salah seorang pejuang yang menentang kekuasaan Belanda pada tahun 1825-1830, atau dikenal dengan Perang Diponegoro. Kyai Modjo adalah penasehat spiritual Pangeran Diponegoro.

Kyai Modjo yang lahir pada tahun 1764 ini, wafat pada 20 Desember 1849. Ia dimakamkan di Kelurahan Wulauan, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa. Makamnya berada di perbukitan nan sejuk. Selain Kyai Modjo, di situ dimakamkan juga Ahmad Rifai, sang pahlawan nasional.

Sesampai di makam, pengunjung akan disambut dengan gapura selamat datang dan papan penanda makam. Memasuki kawasan makam, ada tulisan di papan yang menjelaskan tentang makam Kyai Modjo dan Ahmad Rifai. Dalam penjelasannya menceritakan rombongan Kyai Modjo yang tiba di Tondano pada akhir tahun 1929 itu berjumlah 63 orang, dan semuanya laki-laki.

Mereka kemudian menikah dengan wanita Minahasa, di antaranya bermarga Supit, Sahelangi, Tombokan, Rondonuwu, Karinda, Ratulangi, Rumbayan, Malonda, Tombuku, Kotabunan, dan Tumbelaka. Mereka kemudian beranak pinak di Kampung Jawa Tondano.


Ahmad Rifai sendiri dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 10 November 2004 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kyai Ahmad Rifai yang lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah, adalah salah satu dari sekian tokoh yang bukan bagian pengikut Pangeran Diponegoro yang diasingkan di Kampung Jawa Tondano oleh Belanda. Kyai Rifai adalah seorang ulama yang juga menikah dengan wanita Minahasa dan memiliki banyak keturunan.

Untuk sampai ke Makam Kyai Modjo, harus mendaki sejumlah anak tangga, hingga ke makam.  Anak tangga ini terlihat rapi dan bersih, diteduhi rimbun dedaunan dan dihiasi rerumputan hijau segar. Secara keseluruhan, makam ini terlihat bersih dan terawat.

Makam Kyai Modjo, satu-satunya makam di dalam kompleks yang memiliki undakan sembilan. Di dalam cungkup Makam Kyai Mojo terdapat makam beberapa orang pengikutnya. Cungkup makam KH Hasan Maulani, yang dikenal juga dengan sebutan Eyang Lengkong, karena berasal dari Desa Lengkong, Garawangi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Kyai Hasan, yang oleh orang Kuningan disebut Eyang Menado, ditangkap Belanda pada 1837 lalu dibawa ke Ternate. Dari sana dipindahkan ke Kema, dan tiga bulan kemudian dibawa ke Kampung Jaton.


Selain Kyai Ahmad Rifai dan Kyai Hasan Maulani, Kampung Jaton juga menjadi tempat pembuangan para pejuang penentang penguasa kolonial Belanda yang berasal dari Aceh, Banjarmasin, Padang, Palembang, Saparua, dan Sumatera Selatan. Di kawasan itu pula tampak makam para pengikut Kyai Modjo.

Beberapa kali Kyai Modjo oleh pemerintah Belanda melalui surat dan perantara agar beliau berdamai dengan Belanda. Pemerintah Belanda menjanjikan kepada beliau akan diberikan kedudukan dan jabatan apabila Kyai Modjo berdamai dengan pemerintah Belanda.

Namun karena semangat kepahlawanan Kyai Modjo dengan tekad mengusir Belanda dari Pulau Jawa pada masa itu, maka segala bujukan Belanda ditolaknya. Pada akhir tahun 1828 beliau ditangkap melalui suatu tipu muslihat dan dibuang ke Minahasa.

Dalam masa pengasingannya disertai 62 orang pengikutnya, mereka berangkat dari Batavia (Jakarta) melalui Ambon dan tiba di Minahasa di Desa Kema Kecamatan Kauditan daerah pantai Timur Minahasa pada tahun 1829.

Kyai modjo dan pengikutnya pertama kali ditempatkan oleh pemerintah Belanda di Kaburukan, bagian selatan Kema. Selanjutnya mereka dipindahkan ke sebelah utara yaitu di Tasik Oki (Tanjung Merah). 


Alasan mereka dipindahkan karena Tasik Oki adalah daerah yang berawa serta dekat dengan Gunung Klabat. Selanjutnya atas permintaan mereka, dipindahkan lagi di sebelah barat Sungai Tondano. Kemudian mereka pindah lagi ke daerah Kawak (letaknya sekarang di belakang Masjid Kampung Tegal Rejo).

Selanjutnya mereka pindah ke perkampungan yang dikenal dengan nama Kampung Jawa. Perpindahan Kyai Modjo dan para pengikutnya atas pertimbangan pemerintah Belanda agar Kyai Modjo dan pengikutnya tidak dapat lagi melarikan diri.

Kyai Modjo dan pengikutnya menempati daerah hutan belukar dan berawa, namun tidak semua mereka kelola, sebagian tanah yang diberikan oleh pemerintah Belanda tersebut diambil oleh penduduk pribumi. Kemudian berdirilah perkampungan Wulauan dan perkampungan Marawas tahun 1897.

Hal tersebut diperkuat dengan bukti sejarah bahwa pekuburan orang-orang Jawa dan Kyai Modjo beserta pengikutnya terletak di Kampung Wulauan yang berada di sebelah timur Kampung Jawa.


Dalam pengasingannya tersebut selain Kyai Modjo, terdapat pula beberapa ulama agama Islam antara lain Kyai Teuku Madja, Tumenggung Pajang, Pati Urawan, Kyai Baduran, dan Kyai Hasan Bedari.

Di Kampung Jawa Tondano sendiri saat ini merupakan tempat dimana berdomisili keturunan Kyai Modjo dan Ahmad Rifai. Di kampung ini, penduduknya sangat lekat dengan budaya Minahasa. Warga Jaton sangat mahir berbahasa Minahasa, yang sesekali tercampur dengan bahasa Jawa.

Kampung Jaton berada di tengah pemukiman warga nasrani. Dan sejak dulu kala, kerukunan umat beragama di sini begitu erat. Bahkan saat hari-hari raya besar keagamaan, lintas agama saling menyukseskan perhelatan acara tersebut.

Untuk ke Kampung Jaton, maupun makam Kya Modjo, butuh berkendara sekitar 90 menit dari Kota Manado. Jika menggunakan angkutan umum, dari terminal Karombasan Manado, naik jurusan Manado - Tondano. Turun di terminal Tondano, dan bisa naik ojek atau kendaraan tradisional bendi.

Taman Makam Pahlawan Nasional Sam Ratulangi di Tondano


Monumen GSSJ Ratulangi

Dr Gerungan Saul Samuel Jozias (GSSJ) Ratulangi atau dikenal dengan Sam Ratulangi adalah pahlawan nasional dari Sulawesi Utara. Selain dikenal sebagai pahlawan nasional, Sam Ratulangi juga merupakan tokoh multidimensional di tanah Toar Lumimuut.

 Satu di antara falsafah Sam Ratulangi yang terkenal saat ini adalah si tou timou tumou tou, yang dalam bahasa daerah Minahasa, berarti manusia hidup untuk memanusiakan orang lain. Semboyan Sam Ratulangi ini bisa dijumpai di banyak tempat di Sulawesi Utara.

Pada 30 Juni 1949, Sam Ratulangi wafat dalam tahanan Belanda. Nama Sam Ratulangi kini diabadikan menjadi nama bandara dan universitas terkenal di Sulawesi Utara. Juga nama jalan di beberapa tempat. Berdasarkan SK Presiden nomor 590/1961, Sam Ratulangi resmi diangkat sebagai pahlawan nasional.

Sam Ratulangi dimakamkan di sebuah perbukitan yang berlokasi di Kelurahan Wawalintouan, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa. Makamnya kini telah menjadi taman wisata bersejarah di Minahasa. Di makam ini juga dibangun monumen Sam Ratulangi.

Kompleks makam begitu luas, dengan banyak pohon rindang yang mengelilingi. Terlebih dahulu pengunjung harus meniti anak tangga hingga sampai ke monumennya. Sementara meniti tangga, pengunjung akan disambut dengan relief yang menggambarkan Sam Ratulangi semasa hidup.


Makam GSSJ Ratulangi
 Relief pertama menggambarkan peran dan perhatian Sam Ratulangi yang besar dalam bidang pendidikan. Ia lahir dari pasangan Jozias Ratulangi dan ibu Augustina Gerungan. Setelah menyelesaikan sekolahnya di Tondano dan Batavia (Koningeen Wilhelmina School), Sam Ratulangi melanjutkan studinya di Vrije Universiteit van Amsterdam di Belanda.

Lulus sebagai guru ilmu pengetahuan pada tahun 1915, lalu belajar selama dua tahun lagi di Universitas Amsterdam. Pada tahun 1919 Sam Ratulangi memperoleh gelar doktor di bidang fisika dan matematika dari University of Zurich, Switzerland.

Relief selanjutnya menggambarkan peran Sam Ratulangi di bidang pendidikan. Sekembalinya ke Indonesia, ia tinggal di Jogyakarta mengajar ilmu pengetahuan di sekolah menengah. Sebelum pindah ke Bandung mendirikan perusahaan Assurantie Maatschappij Indonesia, sebuah perusahaan pertama yang memakai kata "Indonesia" dalam dokumen resminya.

Keterlibatan Sam Ratulangi dalam pergerakan politik semakin nyata ketika diangkat menjadi anggota Volksraad pada 1927 dan terus gigih berjuang bagi persamaan hak, sampai tahun 1937 ketika ia dipenjara karena aktivitas politiknya. Setelah keluar dari penjara, Sam Ratulangi lalu menjadi editor of Nationale Commentaren, sebuah majalah berita dan penerbitan berbahasa Belanda.

Keberhasilan beliau di bidang pendidikan tidak menjadikannya lupa terhadap tanah kelahiran, Sam Ratulangi kembali dengan bekal Ilmu yang dimilikinya guna memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu perjuangannya ialah dalam menghapuskan kebijakan kerja paksa di Minahasa. Setelah Indonesia merdeka Sam Ratulangi diangkat sebagai Gubernur pertama provinsi Sulawesi Utara. 

 
Dengan pengalamannya sebagai jurnalis dan pelaku pergerakan politik, Sam Ratulangi menerbitkan sebuah buku berjudul "Indonesia in den Pacific" pada Jun1 1937. Sam Ratulangi memperingatkan ancaman militerisme Jepang dan kemungkinan Jepang menyerbu Indonesia karena berlimpahnya sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh Jepang. Dalam bukunya itu Sam Ratulangi juga menulis peran penting yang bisa dimainkan oleh Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara di kawasan cekungan Pasifik.

Kemerdekaan Indonesia tidak serta merta menghentikan perjuangan beliau dalam melawan penjajah. Ia ditangkap oleh Belanda dalam agresi militer pada 5 April 1946, dan diasingkan di Serui di Pulau Yapen, sebelum dibebaskan pada 23 Maret 1948 dan dibawa ke Yogyakarta.

Pada agresi militer Belanda yang kedua, Sam Ratulangi ditangkap pada 25 Desember 1948 ketika Belanda menyerbu dan menduduki Yogyakarta. Karena kondisi kesehatannya yang menurun, Sam Ratulangi dibebaskan pada Februari 1949 dan dibawa ke Jakarta smpai ia meninggal pada 30 Juni 1949.

Di sebelah kanan monumen, berdiri makam Sam Ratulangi. Melewati tangga menurun, atau saat memasuki tangga bisa langsun ke kanan. Makam Sam Ratulangi ini berbentuk seperti waruga. Yakni kubur batu bangsa Minahasa pada zaman megalitik lalu. Di tugu ini tertulis "Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr.G.S.S.J. Ratulangie. Lahir: Tondano Tgl 5 Nov. 1890, Meninggal: Jakarta Tgl. 30 Juni 1949".

Kondisi makam keseluruhan terlihat bagus. Di perbukitan dengan suasana asri, di tengah sejuknya hawa Kota Tondano. Makam ini terawat dengan baik. Jika ke makam ini dan pintunya terkunci, jangan langsung pergi dulu. Penjaga makam tinggal di belakang makam, dan bisa dihubungi kapan saja. Penjaga makam ini pula yang akan menjelaskan langsung sejarah tentang Sam Ratulangi ini.

Dari Kota Manado, butuh berkendara sekitar 90 menit. Yang menggunakan angkutan umum, makam ini sangat mudah ditemui. Di terminal Karombasan Manado, naik jurusan Tondano. Lalu turun di terminal Tondano, dan hanya berjalan kaki sedikit sudah tiba di makam pesohor Sulawesi Utara ini.

Tempat Pejuang Minahasa Dulu Bersihkan Diri, tak Boleh Buat Kegaduhan di Danau Ranolewo Langowan


Refreshing di danau air hangat, yang dikelilingi pemandangan alam yang memesona bisa dijumpai di Danau Ranolewo, yang berlokasi di Desa Toraget, Kecamatan Langowan Barat.

Jika berkunjung ke Sulawesi Utara, tepatnya di Kabupaten Minahasa, sempatkan diri berkunjung ke danau yang berwarna hijau ini. Melepas penat dan menyegarkan diri kembali, tanpa dipungut biaya.

Danau kecil ini memang terbentuk secara alami. Selain air hangat dan berwarna hijau, indahnya pemandangan yang dikelilingi sawah, pepohonan dan bunga-bunga bisa dinikmati.

Danau ini menjadi tempat favorit warga setempat untuk mandi atau sekadar bersantai. Biasanya warga yang ke danau ini yakni mereka yang baru kembali dari kebun atau sawah. Setiap hari danau ini selalu ramai.

Warga sekitar meyakini, air danau ini mujarab menghilangkan pegal-pegal, juga menghilangkan penyakit seperti penyakit kulit. Masyarakat menyebut, sehabis mandi di danau ini, badan pasti segar kembali.

Danau ini sangat kental dengan cerita-cerita mistis yang diyakini masyarakat setempat. Jika ke danau ini, tak boleh membuat kegaduhan atau tindakan yang memiliki kesan tak baik.

Di sini, sudah ada beberapa orang yang meninggal. Menurut cerita, itu karena mereka berlaku tak baik saat berkunjung ke danau ini. "Sudah banyak orang yang meninggal di sini karena tenggelam. Kebanyakan adalah orang luar," ujar kakek Oroh, warga setempat.

Selain karena diyakini ada unsur mitos di dalamnya, yang menjadi penyebab lainnya yakni ketidakhati-hatian warga yang mandi. Semakin ke tengah, danau akan semakin dalam.

Ranolewo diambil dari bahasa daerah Minahasa yang berarti air jahat. Untuk alasan itu pula kenapa warga menyebut danau itu Ranolewo. Untuk itu harus berhati-hati jika ke lokasi ini. Danau ini sendiri merupakan danau dimana para pejuang Minahasa tempo dulu membersihkan diri, saat berperang.

Untuk ke danau ini, berjarak sekitar dua kilometer dari pemukiman warga Desa Toraget. Jarak yang harus ditempuh sepanjang dua kilometer, dengan medan jalan yang cukup rusak.

Dari Kota Manado, butuh sekitar 90 menit berkendara. Selama perjalanan, pemandangan alam yang indah akan memanjakan wisatawan. Terutama pada dua kilometer terakhir sebelum masuk ke danau.

Selain danau Ranolewo ini, ada juga danau lainnya yakni Ranokela. Hanya saja danau ini tak untuk mandi, karena airnya telalu panas. Dan memang danau ini kurang dikunjungi warga.

Tak hanya warga setempat, beberapa wisatawan dari luar juga mulai terlihat di danau ini. Danau yang tersembunyi ini memang belum banyak diketahui orang. Padahal potensi wisata danau ini sangat besar.

Meski tersembunyi dan harus melewati medan jalan yang cukup berat, perjalanan tersebut akan terbayarkan dengan pesona danau Ranolewo ini.

Kuliner Murah Meriah di Pantai Alar Amurang, Ditemani Sunset Laut Manado




Pantai Alar yang berlokasi di Kelurahan Pondang, Kecamatan Amurang, merupakan destinasi wisata favorit di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Pantai Alar ini menawarkan wisata murah meriah bagi pelancong yang berkantong tipis.

Hamparan pasir hitam di pantai ini, dan terpaan angin sepoi-sepoi membuat pengunjung akan betah di tempat ini.  Indahnya sunset laut Manado bisa dinikmati dari pantai ini.

Jelang senja, air laut sering surut. Pada kesempatan ini pula masyarakat sering ke laut untuk berfoto atau pun sekadar main air. Bagi yang hobi mancing, bisa juga mancing di laut ini saat air surut.

Pemandangan warga yang memancing dan berenang sering terlihat di pantai ini. Yang ingin mandi, bisa juga. Hanya saja tak ada tempat untuk membersihkan diri dan ganti pakaian.


Indahnya pantai Alar ini tak lengkap tanpa sajian kuliner atau tempat tongkrongan. Di pantai ini berjejer warung-warung makan yang menawarkan kuliner yang lezat. Berbagai jenis menu mulai dari yang khas seperti bubur Manado, hingga panganan nasional lainnya.

Beberapa warung makan menyajikan makanan tak halal, tapi banyak pula yang menyajikan makanan-makanan halal.

Yang hanya ingin ngopi juga bisa. Aneka kopi tersedia di warung-warung. Dan paling pas dipadu padankan dengan pisang goroho goreng dan dabu-dabu. Atau aneka makanan ringan lainnya.

Warung-warung di sini berdiri sederhana, hanya bangunan seadanya. Beberapa bahkan hanya beralaskan pasir laut. Selain bangunan seadanya, ada juga tempat duduk yang beralaskan langit saja.


Harga bubur Manado per porsinya sangat murah, hanya Rp 5 ribu saja. Juga sepaket pisang goroho goreng hanya Rp 10 ribu. Untuk teh atau pun kopi hanya Rp 3 ribu saja. Sangat murah dan pas di kantong.

Dari Kota Manado, butuh waktu berkendara sekitar 90 menit untuk tiba ke pantai ini. Pantai Alar inj berada di pusat Kota Amurang, tepat di belakang kantor Bupati Minahasa Selatan.

Yang naik angkutan umum, bisa dari terminal Malalayang Manado, naik jurusan Manado - Amurang.  Setelah di pusat kota, turun di depan kantor bupati dan berjalan ke arah pantai. Jaraknya tak jauh, hanya sekitar 200 meter hingga ke pantai.

Pantai ini menjadi pilihan tepat untuk melepas penat beraktivitas. Setelah menikmati destinasi wisata di Minahasa Selatan, apa salahnya mampir di pantai ini untuk mencicipi kulinernya, sembari menikmati sunset.