Sunday, October 25, 2015

Kain Pinawetengan Minahasa, Coraknya Diambil Dari Situs Budaya Watu Pinawetengan


Kearifan budaya Minahasa di Sulawesi Utara kembali diabadikan lewat industri kreatif. Dipelopori Yayasan Institut Seni Budaya (ISB) Sulawesi Utara di Tompaso yang dipimpin Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto, kain Pinawetengan memulai debutnya pada tahun 2005.

Corak kain Pinawetengan ini sendiri diambil dari guratan gambar yang ada di situs budaya Watu Pinawetengan yang ditemukan sejak tahun 1888, oleh penduduk Kanonang. Situs ini merupakan tempat dimana para leluhur rakyat Minahasa membagi wilayah kekuasaan, menjadi sembilan sub etnis Minahasa saat ini.

Motif utama kain Pinawetengan adalah bunga matahari yang menjadi ikon Desa Pinabetengan, tempat situs watu pinawetengan berada. Motif tersebut kemudian dikombinasi dengan berbagai warna utama seperti hitam, merah, cokelat, hijau, ungu dan biru. Selain bunga matahari, ada pula corak burung Manguni, kuba Watu Pinawetengan dan motif simbol prasejarah lainnya.

Jenis kain yang diproduksi berupa kain songket, kain tenun dan juga kain print dengan motif pinawetengan. Per lembar kain songket motif Pinawetengan dijual seharga Rp 2,2 juta. Untuk jenis tenun ikat seharga Rp 400 - 600 ribu, sementara yang print rata-rata Rp 50 ribu per meter.


Kain Pinawetengan ini bisa dijumpai di markas Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di Desa Pinawetengan, Kecamatan Tompaso. Di kawasan yang telah menjadi destinasi wisata favorit di Minahasa ini, ada galeri kain Pinawetengan.  Di galeri ini, berbagai jenis kain Pinawetengan dapat dijumpai.

Di sini juga, kain Pinawetengan yang telah menjadi baju bisa menjadi pilihan. Jika ingin membeli, bisa memesan terlebih dahulu. Atau bisa juga membeli baju yang dipajang di galeri.

Selain kain khas Pinawetengan, di galeri ini juga menjual souvenir-souvenir khas Minahasa seperti kaos,  patung Manguni, miniatur penari Kabasaran, miniatur Kolintang dan benda-benda khas Minahasa lainnya.

Di samping galeri kain Pinawetengan ini, terdapat pula rumah tenun kain Pinawetengan. Di rumah tenun ini pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan tenun Pinawetengan. Di tempat ini pula, menjadi tempat favorit pengunjung untuk mengabadikan diri di alat-alat tenun yang berjejer rapi.

Ada juga sebuah ruangan yang dipenuhi kain-kain Pinabetengan. Di ruangan yang kecil ini, sengaja di taruh meja dan kursi untuk bagi pengunjung. Meja dan kursi klasik ini membuat spot untuk memotret di ruangan ini sangatlah bagus.


Di kawasan ISB Sulut ini, banyak tersedia destinasi wisata budaya. Di sini, anda dapat menyaksikan berbagai iven nasional maupun internasional yang diselenggarakan ISB Sulut melalui berbagai foto dan dokumentasi yang dipajang di museum, yang diberi nama Museum Pinawetengan.

Di sini pula, anda dapat melihat berbagai benda seni berupa alat musik zaman dulu dan berbagai busana yang digunakan penari Minahasa. Seperti busana maengket, dan busana tarian kabasaran. Ada juga benda-benda tradisional klasik lainnya yang dipajang. Juga musik-musik tradisional Minahasa yang digunakan hingga saat ini, seperti kolintang dan musik bambu.

Berada di kawasan pegunungan, kawasan ini begitu sejuk. Suguhan indahnya alam pun akan memanjakan mata para wisatawan. Akses ke tempat ini tak sulit, jalanannya dalam keadaan bagus dan mudah dijumpai.

Butuh berkendara sekitar 90 menit dari Kota Manado. Jika naik angkutan umum, dari terminal Karombasan, naik jurusan Kawangkoan. Dari terminal Kawangkoan, anda bisa menyewa ojek untuk ke lokasi. Lima menit di ojek, sudah sampai di lokasi. ISB Sulut ini buka tiap hari, mulai pukul 10.00 Wita - 18.00 Wita.

Kini kain motif Pinawetengan semakin diminati masyarakat. Berbagai lapisan masyarakat mulai dari pejabat, pengusaha, tokoh politik dan warga pada umumnya mulai menggunakan kain Pinawetengan. Berwisata di Minahasa, akan semakin lengkap dengan buah tangan kain khas Pinawetengan ini.

No comments:

Post a Comment