Sunday, October 25, 2015

Monumen BW Lapian dan CH Taulu yang Terabaikan, Dua Pemimpin Perjuangan RI di Minahasa


Peringatan peristiwa Merah Putih tiap tanggal 14 Februari tak sepopuler hari kasih sayang atau Valentine's day. Padahal, di hari tersebut pada tahun 1946, terjadi peristiwa heroik melawan Belanda di Manado.

BW Lapian dan CH Taulu yang merupakan  pemimpin perjuangan RI di Minahasa pun banyak tak dikenal warga Sulawesi Utara. Kini monumennya dibangun di jalan raya Kawangkoan - Tompaso, Minahasa. Namun sayangnya, monumen ini terlantar, dan banyak ditumbuhi rerumputan.

Latar belakang peristiwa Merah Putih tersebut terjadi ketika provokasi Belanda terhadap dunia luar yang menyebut Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 hanyalah gertakan segelintir orang di pulau Jawa.

Dampak negatif dari provokasi tersebut dirasakan LN Palar, yang saat ini sebagai Duta Besar Pertama RI di PBB, yang sedang berjuang di PBB untuk mendapatkan dukungan PBB dan Negara-negara anggota PBB.

Palar kemudian mengontak para pejuang di Manado, meminta mereka melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bangkitnya keberanian warga Minahasa untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda juga semakin terdorong ketika mereka membaca pesan rahasia dari Pahlawan Nasional Dr Sam Ratulangi yang saat itu sebagai Gubernur Sulawesi di Makassar.


Sam Ratulangi meminta tentara knil, asal Minahasa yang pro RI segera melakukan aksi militer di tangsi knil di Teling Manado. Surat rahasia itu kemudian dibawa ke BW Lapian yang adalah seorang politisi dan CH Taulu yang merupakan tokoh militer.

Sejumlah tentara knil dan tokoh masyarakat maupun politisi Minahasa yang pro RI langsung merancang perebutan tangsi tentara knil tersebut. Peristiwa itu direalisasikan para pejuang pada tanggal 14 Februari 1946 dinihari.

Seluruh pimpinan teras tentara di tangsi itu, termasuk seluruh pimpinan Garnizun Kota Manado yang juga bermarkas di tangsi ditangkap dan disel. Peristiwa itu berlangsung mulai pukul 01.00 hingga 05.00 Wita.

Tepat pukul 03.00 Wita, para pejuang menurunkan bendera Kerajaan Belanda Merah Putih Biru. Merobek warna birunya dan menaikkan kembali warna Merah Putih ke puncak tiang bendera di markas tentara yang disebut-sebut angker karena dihuni pasukan knil, pasukan berani mati, andalan Belanda.

Dengan cepat kejadian ini tersebar ke Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Peristiwa ini sangat bernilai strategis, sebab hanya beberapa jam kemudian seluruh dunia mengetahui bahwa tidak benar provokasi Belanda bawah Kemerdekaan RI cuma sebatas perjuangan di Jawa. Dunia lewat peristiwa ini, akhirnya tahu, Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.


Mengenang jasa-jasa perjuangan BW Lapian dan Ch Taulu, dibangun monumen keduanya pada 30 November 1987 dan diresmikan oleh Gubernur Sulut saat itu, CJ Rantung di jalan raya Kawangkoan - Tompaso.

Namun sayangnya, perjuangan para terdahulu di peristiwa Merah Putih tersebut seakan terlupakan. kondisi monumen yang terpantau Sabtu (27/06/2015) sangat memprihatinkan. Tak terurus dan ditumbuhi rerumputan, yang nyaris menutupi kawasan ini.

Padahal, di kawasan monumen ini dibangun tempat duduk yang bisa untuk bersantai. Jika kondisinya baik, tempat ini bisa dijadikan tempat bersantai menikmati hawa sejuk di Minahasa.

Dari Kota Manado, butuh berkendara sekitar 90 menit. Jika naik angkot, dari terminal Karombasan naik jurusan Kawangkoan. Turun di terminal dan tinggal jalan kaki sedikit menuju arah Tompaso, monumen ini langsung ditemui.


Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah) seperti pesan Bung Karno merupakan kewajiban semua rakyat Indonesia. Kondisi monumen yang memprihatinkan diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

No comments:

Post a Comment